Senin, 10 Juli 2017

Potensi Wisata Pasar Tradisional


Dikenal sebagai The Kitchen of The World, hingga kini Thailand masih bertahan menjadi negara eksportir beras terbesar di dunia terutama untuk kawasan Asia. Perhatian lebih yang diberikan sejak masa Raja Bhumibol Adulyadej pada sektor pertanian menjadikan potensi pertanian berpengaruh positif pada perekonomian, menyerap 38,2% tenaga kerja serta memberikan kontribusi GDP sebesar 12,2%. Sedangkan World Travel & Tourism Council (WTTC) menyatakan bahwa sebesar 10% GDP sektor pertanian berpengaruh positif pada perekonomian. Sektor travel and tourism Thailand pun menjadi sektor kedua paling banyak menyerap tenaga kerja. Hal ini dikarenakan banyak lokasi wisata Thailand yang berbasis pertanian. Tercatat bahwa pada tahun 2016 wisatawan yang datang ke Thailand hampir mencapai 32 juta orang dan mayoritas wisatawan yang berasal dari China, Malaysia, Rusia dan Jepang. Angka ini masih terlalu tinggi dibandingkan Indonesia yang tahun 2017 ini baru menargetkan jumlah wisatawan mencapai 15 juta orang.


Melihat kesuksesan Thailand mengembangkan wisata berbasis produk pertanian, Indonesia sebenarnya memiliki peluang yang sama. Hanya saja pengeloaannya masih kalah cerdas dibandingkan Thailand. Pemerintah selama ini hanya berfokus pada satu titik, bukan pada keseluruhan sistem disektor pertanian. Pemberian subsidi benih dan pupuk masih terus berjalan sementara dari sisi penjualan produk pertanian belum optimal. Pemerintah terkesan setengah hati menangani permasalah pertanian dan tidak mempertimbangkan subsistem agribisnis keseluruhan.

Ada Apa dengan Pasar Tradisional?
  
Berbicara tentang sistem agribisnis, maka juga berbicara tentang proses dari hulu ke hilir. Maka faktor pendorong naiknya permintaan masyarakat kini tak hanya berorientasi pada kualitas produk, tapi juga daya tarik faktor lain, misalnya jenis pasar. Oleh karena itu keberadaan pasar sebagai tempat proses pertukaran barang, jasa dan informasi menjadi hal penting dalam manajemen pemasaran.
Baik pasar tradisional maupun pasar modern memiliki daya tarik yang berbeda. Sayangnya, masyarakat lebih memilih berbelanja di pasar modern dibanding di pasar tradisional. Padahal keberadaan pasar tradisional tidak hanya menjadi tempat untuk menjaga stabilitas pangan tapi juga sekaligus tempat memamerkan komoditi unggulan pertanian daerah dengan nuansa budaya sosial yang khas.
Thailand misalnya, pasar tradisional menjadi lokasi wisata yang diincar para wisatawan. Hal ini terbukti dari banyaknya lokasi yang “disulap” menjadi lokasi wisata, bahkan pasar tradisional sekali pun. Pasar Or Tor Kor yang berlokasi di Bangkok, tak jauh dari pasar mingguan Chatuchak, terkenal sebagai pasar segar peringkat keempat di dunia versi CNN Travel setelah pasar La Boqueria di Barcelona, Pasar Tsukiji di Tokyo dan Pasar Union Square di New York. Pasar ini menjadi surga berbagai macam buah eksotis tropis di seantero Thailand bahkan diseluruh Asia.
Pasar Or Tor Kor adalah contoh wisata pasar tradisional di Asia Tenggara yang patut dicontoh, terutama dari segi manajemen pemasaran agribisnis yang dirancang sangat strategis melalui sebuah pasar tradisonal. Pasar ini memperhatikan kebersihan dan kerapian lokasi, kualitas produk jual yang berstandar tinggi serta kuantitas produk domestik dan impor yang tak diragukan lagi. Pasar ini menjalankan sistem agribisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir dan memadukan potensi wisata yang prospektif. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Potensi Wisata Pasar Tradisional
            Pemerintahan Presiden Jokowi dalam program nawacitanya di tahun 2017 ini berencana untuk membangun 1.003 pasar tradisional hampir disetiap di Indonesia. Pasar-pasar tradisional dibangun dan dibenahi dan ditargetkan pemerintah menjadi pasar pariwisata dan tradisional terpadu yang berdaya saing. Pemerintah memastikan tidak hanya berfokus pada  pembangunan fisik, tapi juga pembenahan dari sisi manajemen pedagang, seperti manajemen stok, keuangan, tata letak barang dll.
Namun kini muncul tantangan lain. Keberadaan pasar modern yang semakin menjamur  mengurangi minat masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional. Maka kini Menko Perekonomian mengeluarkan kebijakan pembatasan zonasi minimarket yang kini berjumlah 14 ribu unit agar tidak merajalela di permukiman masyarakat. Regulasi terbaru ini dilakukan untuk melindungi pasar tradisional yang tergerus zaman. Tak hanya itu, pemerintah juga seharusnya perlu memastikan hubungan yang jelas antara petani atau pedagang dengan pasar tradisional. Memutuskan rantai pemasaran yang terlalu panjang serta mendorong petani untuk memperkuat bargaining position melalui collective action berupa kelompok tani.
Pasar tradisional dikatakan berhasil jika pasar tidak hanya menjadi tempat berbelanja tapi juga menjadi tempat wisata. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah bersama-sama menjadikan pasar tradisional tak hanya untuk meningkatkan omset pedagang, tapi juga meningkatkan suasana ekonomi pasar yang kompetitif, berdaya saing, dan berpotensi wisata.


*Penulis adalah Mahasiswa Magister Sains Agribisnis IPB, Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP RI dan tergabung di Organisasi Mata Garuda Daerah Aceh (Saleum)
*Tulisan ini dimuat pada Rubrik Opini di Media Surat Kabar Republika Edisi 8 Juli 2017

0 comments: