Sabtu, 18 Februari 2017

Primadona Nasional yang Terlupakan

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Tak ayal Lirik lagu Koes Plus tetap populer membingkai Indonesia sebagai “tanah surga”. Namun kini agaknya julukan itu terkikis seiring waktu. Kekayaan sumber daya alam suatu negara belum menjamin kesejahteraan rakyatnya.
Melihat pergerakan bisnis, komoditas perkebunan seperti sawit, kopi dan karet memberikan angin segar pertumbuhan ekonomi hingga di tingkat perdagangan internasional. Tapi sayangnya, jika Indonesia hanya bertompang pada CPO di segi kuantitas, maka Indonesia akan tertinggal dari negara jiran yang berfokus di segi kualitas. Begitu juga halnya dengan kopi yang masih menimbulkan dilema bagi para petani kopi lokal. Pendapatan petani kopi masih belum bisa dikatakan seutuhnya sejahtera. Belum lagi pergolakan harga yang fluktuatif dan tingkat produksi yang tak menentu. Akan kah Indonesia akan terus mengandalkan komoditas perkebunan tersebut? Lalu apa komoditas potensial “tanah surga” lainnya?

Nasib Buah Tropis Indonesia
Dilalui oleh garis ekuator menjadikan Indonesia berada di daerah yang memiliki intensitas cahaya yang stabil disepanjang tahun dan bercurah hujan ideal. Biodeversiti bunga, sayur, obat-obatan, termasuk buah-buahan tropis tumbuh subur. Namun tak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya buah tropis Indonesia adalah aset nasional yang berdaya saing tinggi. Keanekaragaman buah tropis Indonesia sepantasnya menjadi primadona nusantara yang terlupakan eksistensinya.
Dari segi peluang, produksi buah-buahan lokal justru tak kalah berjaya di pasar global. Di tambah lagi volume eskpor buah Indonesia menurut data BPS 2015 terus mengalami peningkatan setiap tahun. Pisang misalnya, mencapai 7008 ton produksi. Kemudian disusul Mangga sebanyak 2464 ton dan Jeruk sebanyak 1999 ton. Pada kenyataannya melimpah-ruahnya produksi buah tropis ternyata tak sebanding dengan keadaan perekonomian dalam negeri. Indonesia justru dibanjiri oleh buah-buahan impor. 


Fakta lain menunjukkan bahwa masih banyak buah-buah di pasar tradisional yang berkualitas kurang baik. Ini tentu menurunkan minat pembeli. Pemupukan yang tidak tepat, packaging yang tidak sesuai standar serta mutu yang rendah menjadi kendala di pasar domestik. Konsumen yang cerdas tentu akan lebih memilih buah segar dan harganya juga terjangkau. Produk impor yang murah dan dikemas menarik menjadi pilihan yang menggiurkan. Ini salah satu faktor mengapa komoditas hortikultura masih jalan ditempat dan belum bisa aman melejit ke pasar global. Dibandingkan dengan dengan importir buah terbesar seperti Cina, Indonesia masih kalah dalam hal efisiensi produksi.
Pada 17-20 November lalu di Senayan, Jakarta, Kementerian Pertanian bersama IPB menggelar pameran buah Indonesia. Pesta buah bertaraf internasional ini memunculkan beragam buah eksotis Indonesia yang langka ditemukan. Kegiatan ini  memperkenalkan buah nusantara di pasar global, meningkatkan ekspor dan mengurangi ketergantungan buah impor. Selain itu juga diharapkan mampu memancing masyarakat lokal untuk menyadari kekayaan SDA dalam negeri. Pemerintah berperan penting untuk meningkatkan kesadaran dan membuka mindset masyarakat terkait peluang agribisnis dari komoditas holtikultura. Selebihnya tentu perlu sinergi beberapa pihak lain untuk mencapai peluang agribisnis yang oke punya.

Mendukung Agribisnis Buah Tropis
Menurut data FAO, Indonesia berada diperingkat 20 besar eksportir buah di dunia. Ini membuktikan bahwa Agribisnis komoditas hortikultura tak kalah menggoda. Terdapat 12 macam buah tropis asli Indonesia yang sudah diakui dunia yaitu Jeruk Bali Keprok, Durian, Mangga, Manggis, Alpukat, Nanas, Rambutan, Salak, Pisang, Pepaya, Melon dan Semangka. Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman varietas buah tropis yang tak ditemukan di negara lain.
Komoditas pertanian perlu dikembangkan  melalui  agribisnis yang terintegrasi. Kita perlu memperbaiki keseluruhan proses mulai dari tahapan di hulu hingga hingga hilir. Optimisme pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pengeskpor buah utama dan terbesar di dunia akan mendekati titik cerah jika dijalankan dengan baik. Potensi agribisnis buah tropis diyakini tak hanya meningkatkan perekonomian lewat perdagangan internasional, tapi juga diharapkan mampu menumbuhkan potensi agrowisata. Sejak dulu buah-buahan sudah menjadi bagian dari kultur Indonesia karena hampir semua acara budaya menggunakan buah, baik untuk suguhan maupun bagian dari ritual peribadatan. Indonesia seharusnya menjadi peluang besar dalam agribisnis buah tropis global.
Mewujudkan hal tersebut tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu sinergi dari banyak pihak untuk mewujudkannya. Pemerintah diharapkan memberikan dukungan penuh pada perkembangan pasar buah domestik. Pemberian subsidi bagi para petani, penyediaan bibit unggul dan gencar melakukan promosi pada komoditas unggulan. Masyarakat umum pun perlu memahami potensi daerahnya sendiri. Para akademisi juga dapat memberikan kontribusinya lewat keterampilannya dalam hal genetika untuk menciptakan bibit-bibit unggul. Sudah saatnya kita membuktikan penggalan lirik Koes Plus tak hanya sekedar lirik dan menobatkan buah tropis sebagi komoditas primadona baru Indonesia. Semoga. 



-------------
*Tulisan ini di publish di Majalah Warta Unsyiah Edisi 502 Januari 2017

0 comments: