Senin, 10 Juli 2017

Potensi Wisata Pasar Tradisional


Dikenal sebagai The Kitchen of The World, hingga kini Thailand masih bertahan menjadi negara eksportir beras terbesar di dunia terutama untuk kawasan Asia. Perhatian lebih yang diberikan sejak masa Raja Bhumibol Adulyadej pada sektor pertanian menjadikan potensi pertanian berpengaruh positif pada perekonomian, menyerap 38,2% tenaga kerja serta memberikan kontribusi GDP sebesar 12,2%. Sedangkan World Travel & Tourism Council (WTTC) menyatakan bahwa sebesar 10% GDP sektor pertanian berpengaruh positif pada perekonomian. Sektor travel and tourism Thailand pun menjadi sektor kedua paling banyak menyerap tenaga kerja. Hal ini dikarenakan banyak lokasi wisata Thailand yang berbasis pertanian. Tercatat bahwa pada tahun 2016 wisatawan yang datang ke Thailand hampir mencapai 32 juta orang dan mayoritas wisatawan yang berasal dari China, Malaysia, Rusia dan Jepang. Angka ini masih terlalu tinggi dibandingkan Indonesia yang tahun 2017 ini baru menargetkan jumlah wisatawan mencapai 15 juta orang.


Melihat kesuksesan Thailand mengembangkan wisata berbasis produk pertanian, Indonesia sebenarnya memiliki peluang yang sama. Hanya saja pengeloaannya masih kalah cerdas dibandingkan Thailand. Pemerintah selama ini hanya berfokus pada satu titik, bukan pada keseluruhan sistem disektor pertanian. Pemberian subsidi benih dan pupuk masih terus berjalan sementara dari sisi penjualan produk pertanian belum optimal. Pemerintah terkesan setengah hati menangani permasalah pertanian dan tidak mempertimbangkan subsistem agribisnis keseluruhan.

Ada Apa dengan Pasar Tradisional?
  
Berbicara tentang sistem agribisnis, maka juga berbicara tentang proses dari hulu ke hilir. Maka faktor pendorong naiknya permintaan masyarakat kini tak hanya berorientasi pada kualitas produk, tapi juga daya tarik faktor lain, misalnya jenis pasar. Oleh karena itu keberadaan pasar sebagai tempat proses pertukaran barang, jasa dan informasi menjadi hal penting dalam manajemen pemasaran.
Baik pasar tradisional maupun pasar modern memiliki daya tarik yang berbeda. Sayangnya, masyarakat lebih memilih berbelanja di pasar modern dibanding di pasar tradisional. Padahal keberadaan pasar tradisional tidak hanya menjadi tempat untuk menjaga stabilitas pangan tapi juga sekaligus tempat memamerkan komoditi unggulan pertanian daerah dengan nuansa budaya sosial yang khas.
Thailand misalnya, pasar tradisional menjadi lokasi wisata yang diincar para wisatawan. Hal ini terbukti dari banyaknya lokasi yang “disulap” menjadi lokasi wisata, bahkan pasar tradisional sekali pun. Pasar Or Tor Kor yang berlokasi di Bangkok, tak jauh dari pasar mingguan Chatuchak, terkenal sebagai pasar segar peringkat keempat di dunia versi CNN Travel setelah pasar La Boqueria di Barcelona, Pasar Tsukiji di Tokyo dan Pasar Union Square di New York. Pasar ini menjadi surga berbagai macam buah eksotis tropis di seantero Thailand bahkan diseluruh Asia.
Pasar Or Tor Kor adalah contoh wisata pasar tradisional di Asia Tenggara yang patut dicontoh, terutama dari segi manajemen pemasaran agribisnis yang dirancang sangat strategis melalui sebuah pasar tradisonal. Pasar ini memperhatikan kebersihan dan kerapian lokasi, kualitas produk jual yang berstandar tinggi serta kuantitas produk domestik dan impor yang tak diragukan lagi. Pasar ini menjalankan sistem agribisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir dan memadukan potensi wisata yang prospektif. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Potensi Wisata Pasar Tradisional
            Pemerintahan Presiden Jokowi dalam program nawacitanya di tahun 2017 ini berencana untuk membangun 1.003 pasar tradisional hampir disetiap di Indonesia. Pasar-pasar tradisional dibangun dan dibenahi dan ditargetkan pemerintah menjadi pasar pariwisata dan tradisional terpadu yang berdaya saing. Pemerintah memastikan tidak hanya berfokus pada  pembangunan fisik, tapi juga pembenahan dari sisi manajemen pedagang, seperti manajemen stok, keuangan, tata letak barang dll.
Namun kini muncul tantangan lain. Keberadaan pasar modern yang semakin menjamur  mengurangi minat masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional. Maka kini Menko Perekonomian mengeluarkan kebijakan pembatasan zonasi minimarket yang kini berjumlah 14 ribu unit agar tidak merajalela di permukiman masyarakat. Regulasi terbaru ini dilakukan untuk melindungi pasar tradisional yang tergerus zaman. Tak hanya itu, pemerintah juga seharusnya perlu memastikan hubungan yang jelas antara petani atau pedagang dengan pasar tradisional. Memutuskan rantai pemasaran yang terlalu panjang serta mendorong petani untuk memperkuat bargaining position melalui collective action berupa kelompok tani.
Pasar tradisional dikatakan berhasil jika pasar tidak hanya menjadi tempat berbelanja tapi juga menjadi tempat wisata. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah bersama-sama menjadikan pasar tradisional tak hanya untuk meningkatkan omset pedagang, tapi juga meningkatkan suasana ekonomi pasar yang kompetitif, berdaya saing, dan berpotensi wisata.


*Penulis adalah Mahasiswa Magister Sains Agribisnis IPB, Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP RI dan tergabung di Organisasi Mata Garuda Daerah Aceh (Saleum)
*Tulisan ini dimuat pada Rubrik Opini di Media Surat Kabar Republika Edisi 8 Juli 2017

Kamis, 01 Juni 2017

Dialog MSA IPB bersama DPR RI


Setelah 8 tahun, akhirnya saya kembali lagi untuk mengunjungi gedung DPR. Jika dulu ke DPR masih dalam status siswa dalam rangka sebuah event kompetisi nasional, tapi kali ini saya berstatus mahasiswa S2 dalam sebuah kegiatan dialog interaktif bersama wakil rakyat. Bagi saya, gedung DPR lebih dari tempat melihat langsung Putri Pariwisata Indonesia, berfoto atau bertegur sapa dengan para wakil rakyat kala itu. Tapi ada kisah berkesan yang tak akan hilang dibenak hingga sekarang. Rasa haru timbul ketika menyadari bahwa Allah selalu ada cara memberikan kejutan yang tak terduga. Yaitu, kembali pada sebuah tempat yang penuh akan kenangan setelah bertahun-tahun. Alhamdulillah.
Selasa lalu (30/5/2017), sebanyak 30 orang siswa dan 2 orang dosen dari Magister Sains Agribisnis (MSA) IPB melakukan kunjungan ke DPR RI, Senayan, Jakarta. Kunjungan ini bukan bagian dari perkuliahan, tapi sebuah peluang yang ditawarkan oleh dua orang dosen MSA IPB untuk lebih banyak memperoleh pemahaman terkait mata kuliah Sistem Usaha Agribisnis dan mata kuliah Negosiasi dan Advokasi di luar kelas.  Kedua mata kuliah ini adalah mata kuliah yang berhubungan pada dan proses advokasi terutama dibidang agribisnis. Sangat menarik bukan? Bisa mendapatkan tambahan pengetahuan dan wawasan langsung dari anggota DPR RI.


Kunjungan pertama yaitu dialog interaktif bersama Pak Darori Wonodipuro. Beliau pernah menjadi Dirjen Departemen Kehutanan RI selama 10 tahun dan kini seorang anggota DPR Komisi IV Fraksi Gerindra. Dialog yang berlangsung berupa pembahasan tentang kehutanan. Beliau banyak menjelaskan fungsi hutan, perundang-undangan, kondisi hutan Indonesia saat ini dan banyak hal lainnya. Pak Darori kerap menyelipkan guyonan saat berbicara sehingga dialog santai tapi tetap serius. Beliau menjelaskan bahwa perundang-undangan yang mengatur tentang kehutanan saat ini tidak sesuai harapan karena ada kepentingan-kepentingan pihak terselubung yang “bermain” saat implementasi. Maka karena itu kebijakan pemerintah yang mengatur tentang kehutanan tidak ada yang 100% sesuai rencana.


Pada siang harinya, kami juga berdialog dengan Wakil Ketua DPR, Fadli Zon. Dialog membahas tentang ketahanan pangan dan hubungannya dengan ilmu Agribisnis. Beliau mengungkapkan bahwa Agribisnis adalah bidang ilmu yang sangat dibutuhkan sekarang ini. Sistem agribisnis di Indonesia masih belum optimal dan kreatif jika dibandingkan dengan sistem agribisnis negara Thailand, Jepang dan beberapa negara lainnya. Beliau juga menambahkan bahwa infrastruktur yang digadang-gadang menjadi kendala dalam pertanian terkadang tidak tepat sasaran sehingga proyek padat modal seperti infrastruktur berimbas pada hal lain yang tak ada kaitannya dengan pembangunan pertanian. Negara Indonesia kini kini hanya masuk dalam tahap ketahanan pangan, tapi masih belum daulat pangan. Mewujudkan hal ini tentu membutuhkan banyak kerjasama yang berkesinambungan antar berbagai stakeholder. Inilah yang menjadi tujuan kunjungan kami ke DPR agar para mahasiswa magister utamanya, mendapatkan penjelasan akan peluang dan tantangan agribisnis langsung dari wakil rakyat. Mahasiwa MSA IPB juga diharapkan bisa menuliskan opininya di surat kabar terkait wawasan yang didapatkan selama kunjungan.


Sebenarnya kami juga berencana untuk mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait teknik negosiasi dan advokasi pertanian pada hari itu. Tapi sayang, sesi berdialog dengan Fadli Zon dimulai terlalu lama dan sesi RDPU keburu selesai, rencana ini pun batal. Padahal, akan lebih menarik lagi jika bisa melihat proses RDPU berjalan. Tak apa, setidaknya kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk saya. Kapan lagi bisa berdialog langsung dengan wakil rakyat di Gedung DPR? Semoga akan ada lagi kesempatan dilain waktu. Amin [KF2/5/2017]



Senin, 03 April 2017

Membuka Tabir Sebuah Dunia Pelarian

Rasanya aneh dizaman sekarang ini masih ada yang belum familiar dengan istilah entrepreunership. Ada banyak keywords yang terlintas saat mendengar kata ini. Mandiri, modal, usaha, keputusan, bisnis, peluang, kaya, profit, bangkrut, dan… pelarian. Iya, sebuah pelarian. Sebuah dunia abu-abu yang hingga sekarang menjadi momok dan rasa ngeri untuk sebagian orang. Mulai dari rasa tidak mampu, tidak mempunyai modal dan bahkan ketakutan akan gagal (bangkrut).
Mungkin karena saya tidak mendapatkan Mata Kuliah Kewirausahaan saat berkuliah S1 dan karena saya bukan berasal dari keluarga pebisnis, pandangan tentang dunia kewirausahaan juga masih asing dipikiran saya. Kedua orang tua yang notabene seorang pendidik di sekolah menengah menjadikan saya justru terbiasa dengan profesi pengajar. Bukan berwiraswasta. Namun paradigma tentang esensi dari sebuah makna kewirausahaan menjadi semakin jelas sejak mengeyam pendidikan di Master Sains Agribisnis IPB. Saya mengenal banyak istilah dalam pendekatan teoritis entrepreneurship.
Kampus yang terkenal dengan karakter kewirausahaannya ini, IPB mendorong minat mahasiswa dengan adanya Mata Kuliah Kewirausahaan. Sejak mengikuti perkuliahan inilah, saya menyadari ternyata jika makna dari kewirausahaan dipisah-pisahkan menjadi lebih detil, esensi “kewirausahaan” menjadi hal yang semakin menimbulkan rasa penasaran. Mulai dari bagaimana hubungan kewirausahaan terhadap labor market, labor supply dan demand, human capital, hingga bagaimana hubungannya dengan unemployment rate dll. Berwiraswasta bukan semata-mata menjual sesuatu dan mengharapkan keuntungan. Banyak hal-hal lain yang patut dipertimbangkan.

Selasa, 28 Maret 2017

The Art of Cooking


Sudah beberapa bulan ini, sejak merantau di Bogor, saya mulai iseng-iseng mencoba memasak. Pada awalnya masih segan sama diri sendiri. Mikirnya apapun masakannya pasti gak jadi dan pasti rasanya jadi gak enak. Tapi akhirnya ada satu alasan yang membuat saya tergerak untuk mulai belanja dan mengolah makanan sendiri. Yaitu karena diremehkan oleh beberapa teman. Ternyata diremehkan itu memberikan dua efek. Pertama minder, karena harus menerima kekurangan diri. Kedua menjadi lebih terbakar semangat. Diremehkan memang membuat diri pada awalnya minder, tapi dengan niat perubahan, maka remehan itu bisa jadi bahan bakar semangat yang paling mujarab.
Diremehkan membuat saya jadi “geram” untuk berubah. Beh, jangan dipikir ini hal yang biasa. Justru ini hal yang luar biasa bagi saya karena sudah mau berubah dan beraksi. Ya meskipunnya mungkin masakan saya tidak seenak dibanding masakan mereka yang sudah ahli dan yang sudah banyak dapat predikat pujian. Masakan yang saya buat masih bukan apa-apanya. Bayangkan saja, saat masih kuliah sarjana di Banda Aceh, mungkin memasak di kosan bisa dihitung pakai jari. Jika pun saya memasak, paling masaknya cuma mie instan, telur dadar, tempe goreng dan nasi goreng. Haha. Jadi jelas kalau banyak yang bilang saya ini tidak pandai memasak, that’s real.  
Hanya satu alasan saya dulu yang membuat saya jarang memasak, yaitu LAMA. Bagi saya memasak itu membuang waktu karena prosesnya cukup lama. Pulang kuliah saya jadi malas ngapa-ngapain. Keinginan memasak ada, tapi terkadang perut sudah keburu lapar duluan sebelum mulai memasak. Because I thought it wasted time, maka saya lebih memilih makanan diluar. Alasan inilah yang membuat saya tidak meneruskan bakat memasak yang “gak jadi” ini sejak masa-masa kuliah S1 dulu. Heuheu

Senin, 27 Februari 2017

1000 Kata yang Tak Sekedar “Kata”

Kau tahu mengapa aku menyayangimu lebih dari apapun? Karena kau menulis. Suaramu tak akan pernah padam ditelan angin. Akan abadi. Sampai jauh, jauh dikemudian hari” (Pramoedya Ananta Toer).
            Banyak orang begitu lancar dan mengalir mengemukakan ide ketika berbicara. Namun susah menyampaikannya dalam sebuah tulisan. Begitu juga sebaliknya. Menulis adalah sebuah skill yang tak semua orang menguasainya. Susah, tapi bisa dipelajari. Menulis seperti sebuah seni yang membutuhkan keterampilan yang tak bisa mengandalkan satu panca indera. Bagi saya, menulis laksana kekayaan kreativitas yang elegan. Lebih dari sekedar menyusun rangkaian kata, menantang dan begitu seru.
            Beberapa hari lalu, Sabtu (25 Februari 2017), saya dan beberapa teman dari awardee LPDP IPB mengikuti kegiatan sharing tentang strategi dan trik menulis menembus media oleh Mata Garuda Institute di Gedung LPDP Kementerian Keuangan RI, Jakarta. Mata Garuda adalah Keluarga Besar para penerima beasiswa LPDP baik yang masih berstatus awardee maupun yang sudah berstatus alumni. Meski harus membatalkan agenda lain, saya menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan “mahal” ini.
            Bhima Yudistira, alumni LPDP yang kini bekerja sebagai Ekonomi di INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) berbagi wawasan dan pengalaman tentang tips dan trik menulis pada semua peserta yang hadir. Bhima menjelaskan bahwa hal terpenting ketika menulis di suatu media (baik media cetak atau media online) adalah mengetahui dengan jelas arah penulisan. Apakah tulisan yang dibuat menunjukkan sebuah positioning (keberpihakan) ataukah mengandung sebuah gagasan baru.


             Terdapat 7 tips utama agar tulisan menembus media. Pertama, tanggap isu.  Seseorang yang ingin menulis opini di media disarankan untuk tanggap isu yang sedang hot di media cetak atau media online. Caranya yaitu dengan rutin membaca editorial surat kabar maupun headline berita online. Kedua, Tema yang ditulis baiknya sesuai dengan bidang keahlian. Biasanya redaktur dari media kredibel akan memperhatikan CV dari penulis. Oleh karena itu, sangat penting untuk memperbaharui profil diri dan menyesuaikan dengan tema tulisan yang dikirimkan. Tulisan yang sesuai dengan bidang keahlian berpeluang besar untuk diterima oleh redaktur. Ketiga, menggunakan bahasa yang to the point. Generasi yang serba instan akan mempengaruhi minat pembaca dalam memilih tulisan yang sensasional, singat tapi lugas. Keempat, perbanyak data. Data kredibel menjadi hal yang sebaiknya tetap diperhatikan dalam menulis. Fakta dari data yang ada akan memperkuat agrumen tapi data yang disajikan tersebut jangan overload. Kalau overload, bukan opini dong namanya. Tapi jurnal ilmiah. Hehe. Kelima, aware terhadap pembaca. Seorang penulis yang ingin tulisannya dibaca oleh banyak orang, maka penulis tersebut harus lebih peka terhadap karakteristik pembaca. Biasanya masing-masing media punya karakteristik pembaca yang berbeda pula. Keenam, proofread. Ini juga menjadi tahap yang tak kalah pentingnya agar tulisan dapat menembus media. Proofread baiknya dilakukan oleh senior, yang lebih mengerti tentang konten dan berpengalaman dalam tulis-menulis. Ketujuh, follow up. Jika hampir seminggu jika tulisan yang sudah dikirimkan tidak juga dipublish, maka perlu ditanyakan dengan sopan kepada redaktur. Ini berguna agar tulisan yang dikirimkan mendapatkan kepastian diterima atau tidak di media tersebut. And the last but not the least, adalah gaya bahasa yang sopan dan jelas ketika mengirimkan tulisan disurel. Pada badan surat, ada baiknya mencantumkan CV, foto, KTP dan nomor rekening. Data pribadi ini diperlukan agar redaktur dapat dengan mudah menelisik latar belakang penulis. Tentu media yang sudah terkenal tidak akan asal-asal menerbitkan sebuah tulisan.
Menulis akan menjadi aktivitas yang berat jika jarang membaca. Bima Yudistira menyarankan untuk lebih sering membaca buku dan mengurangi sumber-sumber informasi yang bersifat instan. Mengapa? Karena informasi yang disajikan lewat media online biasanya terputus-putus sedangkan menulis untuk menembus media perlu pemahaman yang mendalam untuk membentuk sebuah ide baru.



Menjadi awardee LPDP mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi terbaiknya untuk Indonesia. Oleh karena itu menulis dan memberikan gagasan baru untuk perubahan daerahnya atau Indonesia secara umum adalah hal yang sangat dianjurkan. Bhima, yang juga lulusan gelar magister Finance di Bradford University saat memberikan materi saat itu juga menambahkan, “Ketika menulis, harus ada yang menarik, yang berbeda. Jangan mau tulisannya biasa-biasa saja”. Benar sekali.  Tulisan yang menarik dan unik akan berpeluang lebih besar untuk diterbitkan. Dan menulis yang menarik itu sebenarnya susah-susah gampang. Bagaimana, Berani mencoba? [KF/270217]

Sabtu, 18 Februari 2017

Primadona Nasional yang Terlupakan

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Tak ayal Lirik lagu Koes Plus tetap populer membingkai Indonesia sebagai “tanah surga”. Namun kini agaknya julukan itu terkikis seiring waktu. Kekayaan sumber daya alam suatu negara belum menjamin kesejahteraan rakyatnya.
Melihat pergerakan bisnis, komoditas perkebunan seperti sawit, kopi dan karet memberikan angin segar pertumbuhan ekonomi hingga di tingkat perdagangan internasional. Tapi sayangnya, jika Indonesia hanya bertompang pada CPO di segi kuantitas, maka Indonesia akan tertinggal dari negara jiran yang berfokus di segi kualitas. Begitu juga halnya dengan kopi yang masih menimbulkan dilema bagi para petani kopi lokal. Pendapatan petani kopi masih belum bisa dikatakan seutuhnya sejahtera. Belum lagi pergolakan harga yang fluktuatif dan tingkat produksi yang tak menentu. Akan kah Indonesia akan terus mengandalkan komoditas perkebunan tersebut? Lalu apa komoditas potensial “tanah surga” lainnya?

Nasib Buah Tropis Indonesia
Dilalui oleh garis ekuator menjadikan Indonesia berada di daerah yang memiliki intensitas cahaya yang stabil disepanjang tahun dan bercurah hujan ideal. Biodeversiti bunga, sayur, obat-obatan, termasuk buah-buahan tropis tumbuh subur. Namun tak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya buah tropis Indonesia adalah aset nasional yang berdaya saing tinggi. Keanekaragaman buah tropis Indonesia sepantasnya menjadi primadona nusantara yang terlupakan eksistensinya.
Dari segi peluang, produksi buah-buahan lokal justru tak kalah berjaya di pasar global. Di tambah lagi volume eskpor buah Indonesia menurut data BPS 2015 terus mengalami peningkatan setiap tahun. Pisang misalnya, mencapai 7008 ton produksi. Kemudian disusul Mangga sebanyak 2464 ton dan Jeruk sebanyak 1999 ton. Pada kenyataannya melimpah-ruahnya produksi buah tropis ternyata tak sebanding dengan keadaan perekonomian dalam negeri. Indonesia justru dibanjiri oleh buah-buahan impor. 


Fakta lain menunjukkan bahwa masih banyak buah-buah di pasar tradisional yang berkualitas kurang baik. Ini tentu menurunkan minat pembeli. Pemupukan yang tidak tepat, packaging yang tidak sesuai standar serta mutu yang rendah menjadi kendala di pasar domestik. Konsumen yang cerdas tentu akan lebih memilih buah segar dan harganya juga terjangkau. Produk impor yang murah dan dikemas menarik menjadi pilihan yang menggiurkan. Ini salah satu faktor mengapa komoditas hortikultura masih jalan ditempat dan belum bisa aman melejit ke pasar global. Dibandingkan dengan dengan importir buah terbesar seperti Cina, Indonesia masih kalah dalam hal efisiensi produksi.
Pada 17-20 November lalu di Senayan, Jakarta, Kementerian Pertanian bersama IPB menggelar pameran buah Indonesia. Pesta buah bertaraf internasional ini memunculkan beragam buah eksotis Indonesia yang langka ditemukan. Kegiatan ini  memperkenalkan buah nusantara di pasar global, meningkatkan ekspor dan mengurangi ketergantungan buah impor. Selain itu juga diharapkan mampu memancing masyarakat lokal untuk menyadari kekayaan SDA dalam negeri. Pemerintah berperan penting untuk meningkatkan kesadaran dan membuka mindset masyarakat terkait peluang agribisnis dari komoditas holtikultura. Selebihnya tentu perlu sinergi beberapa pihak lain untuk mencapai peluang agribisnis yang oke punya.

Mendukung Agribisnis Buah Tropis
Menurut data FAO, Indonesia berada diperingkat 20 besar eksportir buah di dunia. Ini membuktikan bahwa Agribisnis komoditas hortikultura tak kalah menggoda. Terdapat 12 macam buah tropis asli Indonesia yang sudah diakui dunia yaitu Jeruk Bali Keprok, Durian, Mangga, Manggis, Alpukat, Nanas, Rambutan, Salak, Pisang, Pepaya, Melon dan Semangka. Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman varietas buah tropis yang tak ditemukan di negara lain.
Komoditas pertanian perlu dikembangkan  melalui  agribisnis yang terintegrasi. Kita perlu memperbaiki keseluruhan proses mulai dari tahapan di hulu hingga hingga hilir. Optimisme pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pengeskpor buah utama dan terbesar di dunia akan mendekati titik cerah jika dijalankan dengan baik. Potensi agribisnis buah tropis diyakini tak hanya meningkatkan perekonomian lewat perdagangan internasional, tapi juga diharapkan mampu menumbuhkan potensi agrowisata. Sejak dulu buah-buahan sudah menjadi bagian dari kultur Indonesia karena hampir semua acara budaya menggunakan buah, baik untuk suguhan maupun bagian dari ritual peribadatan. Indonesia seharusnya menjadi peluang besar dalam agribisnis buah tropis global.
Mewujudkan hal tersebut tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu sinergi dari banyak pihak untuk mewujudkannya. Pemerintah diharapkan memberikan dukungan penuh pada perkembangan pasar buah domestik. Pemberian subsidi bagi para petani, penyediaan bibit unggul dan gencar melakukan promosi pada komoditas unggulan. Masyarakat umum pun perlu memahami potensi daerahnya sendiri. Para akademisi juga dapat memberikan kontribusinya lewat keterampilannya dalam hal genetika untuk menciptakan bibit-bibit unggul. Sudah saatnya kita membuktikan penggalan lirik Koes Plus tak hanya sekedar lirik dan menobatkan buah tropis sebagi komoditas primadona baru Indonesia. Semoga. 



-------------
*Tulisan ini di publish di Majalah Warta Unsyiah Edisi 502 Januari 2017

Senin, 13 Februari 2017

Jalan Kaki Santai Bersama IKAMAPA

Sudah lama sejak kegiatan Fun Running yang diadakan Forum Wacana IPB beberapa bulan lalu, saya tidak menikmati jalan pagi santai bersama teman-teman lagi. Biasanya saya sering berjalan kaki sendiri setelah shalat subuh mengelilingi kampus IPB. Terkadang saya lebih senang berolahraga sendiri daripada beramai-ramai. Tapi kali ini beda, pada Minggu yang lalu (12/2/2017), saya dan beberapa teman lain dari Ikatan Keluarga Mahasiswa Pascasarjana Aceh (IKAMAPA) melakukan kegiatan jalan santai.
Agenda jalan santai ini adalah kegiatan yang dibuat oleh Divisi Minat dan Olahraga IKAMAPA. Setahu saya sih, hampir setiap kepengurusan membuat agenda jalan kaki santai. Sambil mengisi waktu, tentu saya mengambil kesempatan ini. Berolahraga sambil bersilahturami dengan anggota IKAMAPA yang lain.
Meski cuaca kurang mendukung pagi itu, tapi jalan kaki tetap dilakukan. Kami menikmatinya dengan senang hati. Seru juga ternyata bisa jalan kaki bersama ya. Olahraga dapat, silahturahmi pun dapat. Kebersamaan seperti ini yang seharusnya bisa terus dijaga.


Kamis, 09 Februari 2017

Menjadi Seorang Awardee


Tidak terasa. Tepat diawal Maret nanti, saya resmi setahun menyandang predikat “awardee” LPDP. Alhamdulillah, dengan beasiswa tersebut, kini saya sedang menjalani studi semester kedua di Program Master Sains Agribisnis di IPB.  Beruntungnya lagi, saya memperoleh IP diawal semester yang cukup bagus. Sungguh ini merupakan rezeki yang dilancarkan oleh-Nya, juga berkat usaha dan doa dari orang tua  yang tak putus-putusnya.

Saya seorang anak sulung dari kedua orang tua yang berprofesi guru, meyakini bahwa pendidikan adalah segalanya dan perubahan nasib berawal dari pendidikan yang lebih baik. Terlebih lagi untuk seorang perempuan, patutnya perempuan menjadi cerdas dan berwawasan luas agar kelak mampu memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Mungkin itu juga yang menjadi alasan ayah dan ibu begitu keukeuh mendorong saya untuk mempersiapkan diri mengikuti seleksi beasiswa S2 tahun lalu. Tak hanya ingin berkuliah di dalam negeri, bahkan sebelum wisuda sarjana pun saya bermimpi mengenyam pendidikan ke luar negeri. Tapi takdir berkata lain. Kota Bogor akhirnya menjadi kota pendidikan saya untuk studi master dengan target selama 2 tahun.

Menemukan Peluang Lewat Edufair
Bagi Scholarship Hunter, LPDP tentu menjadi salah satu list beasiswa yang diincar. Masih jelas dibenak saya ketika masih sibuk mempersiapkan diri mendapatkan beasiswa, ayah pernah berkata, “Zaman sekarang ini gak susah nyari beasiswa. Beasiswa itu seperti ikan di laut. Masalahnya hanya ada di kita aja. Apa kita mampu mendapatkannya”.

Benar juga. Kini pemerintah dalam negeri maupun luar negeri memberikan peluang yang cukup besar pada masyarakat untuk mendapatkan beasiswa pendidikan. Tapi itu semua tergantung pada SDM masing-masing kita. Apakah kita benar-benar layak menjadi salah satu kriteria yang dicari.

Beberapa waktu lalu (31 Januari 2017), saya menjadi panitia pada sebuah pameran beasiswa dan pendidikan yang dilaksanakan oleh LPDP di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta. Di ajang ini, LPDP bersama universitas mitra dan beberapa penyedia layanan beasiswa lainnya melakukan “promosi”, talkshow, prediction test TOEFL-IELTS-TOEIC dan art performances. Terlibat dalam sebuah agenda besar LPDP yang dihadiri lebih dari 12.000 pendaftar merupakan sebuah kebanggaan. Bagi saya, ajang pameran pendidikan seperti Edufair ini adalah sebuah peluang yang sangat baik untuk masyarakat luas agar mengenal lebih dekat berbagai beasiswa pendidikan dan kampus ternama di penjuru dunia.

Pada acara Edufair tahun ini, saya menjadi panitia di bagian Information Desk. Saya mengira jobdesc dibagian ini tidak begitu rumit dan sibuk. Tapi pada kenyataanya, saya harus siap siaga menjawab beberapa pertanyaan dari pengunjung yang membludak dan melayani keluhan-keluhan exhibitors yang kebanyakan seorang bule.

Saat pameran berlangsung, seorang ibu bertanya pada saya, “Apakah ada beasiswa lain selain LPDP? Anak saya ingin ke Amerika”. Lalu saya menjawab, “Ada bu, untuk beasiswa ke Amerika selain LPDP, anak ibu bisa mengambil beasiswa Fulbright”. Ada sisi menarik dari pengalaman melayani ibu dan anak tersebut. Saya melihat sosok seorang ibu yang bersusah payah dan rela menemani anaknya masuk dalam kerumunan para pencari beasiswa lainnya. Orang tua yang begitu bersemangat dan menginginkan yang terbaik untuk anaknya agar mendapatkan beasiswa.

Antusias para pengunjung Edufair yang pun sangat tinggi. Kebanyakan dari mereka bertanya, “Kapan beasiswa LPDP akan dibuka kembali?”. Saya menyimpulkan peminat beasiswa LPDP begitu dinanti oleh banyak orang.

Dulu, saya pun pernah berada di dalam kerumunan orang-orang pencari beasiswa tiap kali diadakan pameran pendidikan. Berdesak-desakan, memborong leafleat informasi beasiswa dan brosur kampus luar negeri serta mengoleksi banyak goodie bag. Saya terharu karena pernah merasakan hal yang sama seperti mereka. Mencari informasi sebanyak-banyaknya adalah bagian dari preparation. Victory loves preparation.

Kebijakan Baru LPDP 2017
Sejak Februari 2017, LPDP kembali membuka pendaftaran dengan ketentuan terbaru. Ada beberapa ketentuan yang berubah dibandingkan tahun lalu. Dulu LPDP membuka pendaftaran 4 kali dalam setahun. Kini LPDP hanya membuka 2 kali. Satu kali untuk peminat studi Dalam Negeri dan satu kali untuk peminat studi Luar Negeri. Terdapat tambahan tahap seleksi Assesment Online, dan beberapa perubahan ketentuan lainnya.

Membidik beasiwa tidak lah gampang. Perlu perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkannya. Termasuk tenaga dan biaya. Ini yang saya rasakan ketika berusaha mendapatkan beasiswa LPDP setahun yang lalu. Saya mempersiapkan segala administrasi pendaftaran dan berusaha meningkatkan skor TOEFL.

Banyak adik-adik kelas dan teman saya begitu tergugah dengan kesempatan yang LPDP berikan. Tapi itu terasa sia-sia jika usaha yang dilakukan masih setengah-setengah. Seperti apa? Seperti masih ragu dapat meningkatkan nilai TOEFL, masih ragu memilih kampus tujuan, masih ragu untuk hidup diluar negeri, masih ragu memilih antara kuliah atau menikah, dan keraguan-keraguan lain yang menghantui.

Benar kata teman saya. Setiap fase hidup ini, kita harus punya tujuan. Dan keyakinan adalah modal dari segalanya. Usaha akan melengkapi keyakinan dan doa akan menyempurnakannya. Begitu banyak yang ingin mendapatkan beasiswa, tapi mereka tidak tahu mengapa mereka “harus” mendapatkannya.

Dalam rangka mengulang memori masa-masa perjuangan mendapatkan beasiswa hingga saya menjadi seorang perantau, saya bertekad menulis ini agar menjadi motivasi untuk para scholarship hunters. Ini juga menjadi pembelajaran bagi saya agar lebih banyak berusaha, yakin, dan bersyukur. Telah menjadi awardee bukan semata-mata menikmati beasiswa saja atau memamerkan foto-foto yang instagramable. Tapi ada beban moral yang harus dipegang teguh untuk Indonesia lebih baik. Mengabdi untuk Indonesia ketika selesai studi dan berkontribusi sebaik-baiknya untuk pembangunan daerah. Setia dengan nilai LPDP; berintegitasi, professional, bersinergi, melayani dan sempurna.

Persis juga seperti harapan Ibu Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani pada acara Welcoming Alumni pada 4 dan 6 Februari lalu. “Agar seluruh awardee LPDP merupakan bagian dari SOLUSI bagi Bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita Indonesia yang adil, makmur, beradab dan bermatabat”. Semoga seluruh awardee baik LPDP maupun awardee dari beasiswa lain menyadari bahwa mendapatkan beasiswa merupakan suatu rezeki yang patut disyukuri karena tidak semua orang diluar sana beruntung mendapatkannya [KF]

Rabu, 04 Januari 2017

Jadi Orang Baik

Tahun 2017 mungkin menjadi tahun yang ditunggu-tunggu oleh sebagian orang karena menjadi momen yang tepat untuk saling berbagi resolusi pribadi tahun baru. Ada banyak macamnya sih. Mulai dari pencapaian yang biasa-biasa saja, sampai pada pencapaian yang luar biasa masuk list poin-poin resolusi impian. Saya juga termasuk tipe yang senang mematok target pada momen tertentu. Baik saat hari ulang tahun maupun ditahun baru. Bukan ikut-ikutan, tapi rasa semangat masih membara panas ketika berada pada embel-embel “baru”. Wajar. hehe
Lalu, ada berapa banyak poin-poin yang sudah terceklis done diantara puluhan bahkan ratusan target tahunan yang kita buat? Oke, saya percaya ada beberapa yang terceklis, ada juga yang sampai detik ini belum terealisasi. Kekecewaan dan penyesalan akan terasa jelas saat kembali flashback. Ah, saya pun merasakan ini kawan! Tentang peluang yang disia-siakan dan tentang masa lampau yang terbuang begitu saja. Tapi ada juga beberapa hal yang patut saya syukuri dan saya percayai bahwa ada hikmah dibalik kegagalan. Let’s positif thinking.


            Menargetkan sesuatu dan merancang impian adalah sifat naluriah manusia. Pada dasarnya manusia hanya bisa merencanakan sesuatu namun segala urusan sukses atau tidaknya tetap ditentukan oleh Tuhan. Saya tipe seorang planner, sekaligus perusak plan itu sendiri. Untuk beberapa kondisi, sifat malas dan acuh tak acuh begitu besar sehingga ada beberapa poin target yang sirna entah kemana.
Menuliskan impian secara jelas disecarik kertas bagi saya merupakan cara mainstream yang dilakukan oleh orang banyak. Tapi (lagi-lagi) saya percaya bahwa dengan menuliskan mimpi, maka itu berarti menjaga mimpi terus awet dan tak hilang menguap di angan-angan belaka. Namun masalahnya, tak semua orang mampu mempertahankan dan mewujudkan impian-impian tersebut. Mau tidak mau, ada hal-hal diluar batas kemampuan manusia meskipun usaha sudah begitu maksimal dilakukan.
“Jadi orang baik” adalah resolusi terbesar saya tahun ini. Tak hanya untuk tahun ini, bulan ini atau hari ini, tapi “jadi orang baik” keinginan yang kontinu yang ingin saya realisasi disetiap sendi kehidupan. Rasanya benar juga pernyataan Tompi di surat kabar KOMPAS (5/1/2017) yang lalu, “Tak banyak orang baik di zaman sekarang ini. Yang bawel banyak”. Ya, kini begitu banyak orang yang berkoar-koar memamerkan kesuksesannya tapi akhirnya lupa akan daratan.
Bagi saya, “jadi orang baik” bisa dilakukan dengan cara 3 hal yaitu pertama: Jadi orang baik untuk diri sendiri. “Baik” dalam artian pengertian dengan diri sendiri yaitu mengetahui dengan jelas karakter diri dan tahu bagaimana berdamai dengan diri sendiri. Tidak memaksakan kehendak jika dirasa tidak baik dan tidak berbohong pada diri sendiri. Kedua: Jadi orang baik untuk orang lain. Hal kedua ini bisa dilakukan dengan cara pintar dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Mengapa harus pintar? Karena masing-masing dari kita mempunyai kepribadian yang berbeda. Tinggal bagaimana  aman dan nyamannya ketika berinteraksi dengan orang lain. Faktanya, di zaman era digital seperti sekarang ini banyak orang hanya menjalin silahturahmi via media maya tapi lupa betapa besarnya pengaruh interaksi di dunia nyata. Ini juga berlaku bagaimana menjadi baik pada orang tua kita sendiri. Nah lalu yang ketiga yaitu Jadi orang baik dihadapan Allah. Caranya bisa dilakukan dengan cara meningkatkan ibadah. Seharusnya tahun baru ini menjadi tahun untuk sungguh-sungguh meningkatkan ketakwaan kita pada Allah SWT.
Jadi orang baik akan tergantung pada perspektif masing-masing orang. Namun output “jadi orang baik” tentu diharapkan mampu memberikan manfaat untuk orang lain. “A change in behavior begins with a change in heart”. Suatu perubahan tak akan jadi apa-apa jika tidak dilakukan dengan komitmen, konsistensi dan konsekuen. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang baik, yang senantiasa menyebarkan manfaat untuk orang lain. Amin. Semangat!