Minggu, 03 September 2017

Benang Merah Isi Khutbah Shalat Ied Idul Adha 1438 H


Apa yang akan kamu lakukan ketika mendengarkan khutbah shalat Ied? Mendengarkan isi khutbah dengan seksama, termenung mengingat dosa, merindukan keluarga yang jauh, atau hanya sibuk berselfi ria? Hehe, saya pun saya begitu. Pada awalnya sangat antusias mendengar isi khutbah. Tapi jika tidak menarik, saya mulai bosan dan memilih membuka aplikasi dihandphone meski hanya sekedar melihat postingan terbaru teman-teman atau mengecek chat ucapan “Selamat Hari Raya Idul Adha, Mohon Maaf Lahir dan Batin”.

Kali ini saya diberi kesempatan untuk merayakan hari raya di kampung halaman, tepatnya di Masjid Agung Al Makmur, Meulaboh, Kabuptaen Aceh Barat. Hanya kurang satu anggota keluarga lebaran kali ini yaitu adik pertama saya. Ia masih harus berjuang menyelasaikan kuliah S1 nya di Yogyakarta. Jadi tahun ini kami hanya merayakan hari raya berlima.


Jujur saja, seringnya, khutbah shalat Ied terasa sangat flat. Isinya itu-itu aja. Namun ada yang menarik dari isi khutbah. Isi khutbahnya terdengar berbeda dari biasanya. Greget. Bikin haru. Ada dua poin menarik yang bisa saya ambil.

Ibu, Wanita Tercantik di Dunia
Penceramah tahun ini memang tetap menyinggung kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Tapi menariknya penceramah juga menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga. Terutama sosok perempuan yang akan menjadi seorang ibu. Penceramah bilang, “Mencari istri mudah. Tinggal ke Korea Selatan satu hari untuk operasi plastik. Tapi mencari sosok ibu sangat susah. Tergantung pada hati dan akhlaknya untuk mendidik anak-anak”.

Sungguh, kedudukan perempuan dalam Islam sangat dihargai dan tinggi. Bagaimana pun paras wajahnya, setiap ibu memiliki wajah tercantik menurut anaknya masing-masing. Kecantikan ibu bagi seorang anak tak akan hilang dimakan zaman meski harus disandingkan dengan miss universe sekalipun.

Untuk menjadi istri yang baik dan ibu yang berhasil mendidik anaknya kelak, seorang laki-laki perlu mencari perempuan yang berakhlak baik dan bisa menjaga harkat martabatnya. Karena jika seorang perempuan sudah baik akhlaknya terlebih dahulu karena didikan keluarganya, maka ketika sudah menjadi istri, sang suami tidak terlalu banyak lagi memperbaiki akhlaknya. Seorang istri akan menjadi tanggungan suami. Bukan lagi keluarga, terutama ayahnya.

Perbedaan dan Persamaan Kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Nuh as
Kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as menjadi inti adanya ibadah berkurban pada Hari Raya Idul Adha. Kisah Nabi Ibrahim as juga menjadi bagian dari serangkaian ibadah yang diwajibkan oleh Jemaah haji. Lalu apa hubugannya dengan Nabi Nuh as?

Nabi Nuh as ingin menyelamatkan anaknya yang kafir dan mengajaknya naik ke kapal besar. Namun anaknya tidak menurutinya. Hingga akhirnya ia mati karena azab Allah. Sebaliknya, Nabi Ibrahim as justru merelakan anaknya yang diidam-idamkan sejak lama untuk disembelih. Namun Nabi Ismail as begitu ikhlas dan mempercayai bahwa itu adalah perintah Allah SWT. Kisah ini memperlihatkan kondisi keluarga yang berbeda antara hubungan ayah dan anak. Penceramah sangat cerdas menceritakan kisah ini hingga saya pun sangat mengerti akan maknanya.

Oleh karena itu, agar kita mendapatkan keturunan yang sholeh, kita dianjurkan berdoa sebagaimana doa Nabi Ibrahim as. “Rabbi habbli minash sholihin” Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh,” (QS. Ash-Shaffaat: 100).

Kedua poin yang menari diatas menjadi benang merah untuk isi khutbah Hari Raya Idul Adha tahun ini. Sama-sama membahas tentang keadaan keluarga kedua nabi yang anaknya berbeda sifatnya. Dapat kita simpulkan bahwa keluarga menjadi bagian penting untuk membentuk kepribadian anak. Banyak hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari persiapan seorang perempuan menjadi seorang istri sekaligus ibu. Juga hikmah cerita untuk menjadi sosok ayah yang dapat membimbing dan mendoakan anaknya agar menjadi anak yang sholeh.

Isi khutbah kali ini sukses membuat saya terharu dan sedikit meneteskan air mata yang cepat diusap. Semoga shalat Ied yang akan datang kita bisa lebih menghayati apapun isi khutbah yang disampaikan oleh penceramah. Amin


Kamis, 31 Agustus 2017

Makna Dibalik Ibadah di Padang Arafah


Bulan Dzulhijjah adalah bulan terakhir menurut kalender Hijriah. Bulan ini menjadi istimewa karena menjadi waktu umat muslim diseluruh dunia melaksanakan ibadah haji dan merayakan Hari Raya Idul Adha. Umat muslim diseluruh dunia berkumpul di Mekkah untuk melaksanakan serangkaian ibadah haji dengan mentaati segala aturan dan meninggalkan larangan selama beribadah.
Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat muslim diseluruh dunia berbondong-bondong untuk memberikan yang terbaik. Pakaian terbaik, dekorasi rumah terindah, hingga menu makanan terlezat saat hari raya nanti. Namun dibalik euphoria itu, tak banyak yang diketahui oleh umat muslim bahwa 2 hari sebelum Hari Raya Idul Adha adalah hari yang begitu disarankan untuk berpuasa. Puasa tersebut yaitu Puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah dan Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Puasa Arafah pada tahun ini jatuh pada Kamis, 31 Agustus 2017. Puasa ini sangat dianjurkan agar umat muslim diseluruh dunia yang tidak sedang berhaji ikut merasakan nikmatnya beribadah wukuf di padang Arafah. Meskipun demikian, puasa ini hukumnya sunnah. Jadi jika tidak dikerjakan, juga tidak berdosa. Namun karena banyaknya hadits yang menguatkan bahwa puasa Arafah ini shahih benar berpahala, lalu apa salahnya jika kita tidak ikut berpuasa sunnah ini? Sungguh, berpuasa itu banyak manfaatnya secara spiritual, kesehatan jasmani dan rohani.

Menurut hadits, keutamaan melaksanakan ibadah puasa Arafah bagi umat muslim yang sedang tidak melaksankaan ibadah haji adalah dihapuskan dosa selama dua tahun. Yaitu tahun lalu dan tahun yang akan datang. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada hari ketika Allah SWT membebaskan hambanya dari api neraka dibandingkan hari lain kecuali pada hari Arafah.” (HR Muslim).

Mengapa Padang Arafah begitu Istimewa?
Ibadah yang dilakukan oleh Jemaah haji di Padang Padang Arafah yang berlokasi sejauh 25 km dari kota Mekkah yaitu Wukuf. Wukuf bermakna hibernasi. Yakni, proses mengistirahatkan diri untuk mengoptimalkan kembali fungsi rohani dan ragawi. Wukuf merupakan ibadah haji yang dilakukan dengan cara seperti berdiam diri, shalat berdoa dan berzikir.
Ibadah ini dilakukan di Padang Arafah sebagai “miniature” dari Padang Mahsyar” yaitu tempat seluruh manusia di bumi di hisap menurut amal ibadahnya. Keadaan lokasi padang pasir yang panas menyengat mengingatkan diri tiap Jemaah haji untuk suatu kebenaran ilahi dan semakin mendekatkan diri pada Allah SWT. Wukuf menjadi puncak pelaksanaan ibadah haji. Namun, ibadah haji tidak berakhir di Arafah ini.
Hal istimewa lainnya di Padang Arafah adalah terdapatnya sebuah Bukit Jabal Rahmah dimana bukit tersebut menjadi lokasi pertemuan yang sangat mengharukan Nabi Adam as dan istrinya Siti Hawa. Nabi Adam as dan Siti Hawa telah terpisah sekian lama (200 tahun) akibat melakukan dosa di Surga. Sejak saat itu momen bertemunya kedua nenek moyan manusia ini kemudian diabadikan oleh Nabi Adam as sendiri hingga diteruskan oleh keturunannya hingga sekarang. Padang Arafah juga menjadi tempat dimaan Allah SWT menurunkan wahyu Surat Al Maidah ayat 3, yaitu Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu’.
Hari Arafah juga diartikan sebagai hari disaat Nabi Ibrahim as telah paham kebenaran dan tujuan dari mimpinya untuk menyembelih anak yang telah ia dambakan. Ketiga moment tersebut menyiratkan bahwa Padang Arafah adalah tempat untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dan memohon ampun atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Ibadah haji di Padang Arafah menjadi tempat untuk mengingat adanya hari hisab dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang terbaik.

Hikmah Berpuasa Arafah
            Saking bermaknanya ibadah di Padang Arafah menjadikan puasa Arafah sangat dianjurkan bagi yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji. Pada saat berpuasa, dianjurkan untuk memperbanyak doa untuk diri sendiri, orang tua, istri atau suami, anak-anak dan kerabat. Selain itu juga sangat baik jika memperbanyak doa untuk saudara-saudara yang sedang berjihad untuk mendapatkan hak nya di Palestian, Syuria dan belahan bumi lainnya.
            Siapa tahu, doa yang kita panjatkan adalah doa yang akan mengubah sejarah umat Islam dengan kemenangan, kegembiraan dan rasa aman dengan ijin Allah SWT. Oleh karena itu sangat baik jika puasa Arafah ini dilakukan. Bagi yang sedang menjalankan ibadah Puasa Arafah, semoga dilancarkan dan diberi pahala yang banyak oleh Allah SWT. Jangan lupa juga menahan diri dari segala yang membatalkan puasa. Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H!

                

Senin, 28 Agustus 2017

Fun, Faith, Fight Thesis!


Kewajban saya untuk melakukan sebuah riset demi mendapatkan gelar Magister Sains (M.Si) sepertinya akan perlu perjuangan yang kuat. Disaat banyak orang-orang berbondong-bondong meneliti pemasaran komoditi kopi, saya menantang diri sendiri untuk lebih berani mengambil fokus penelitian terkait pembiayaan yang ada pada Sistem Resi Gudang (SRG) kopi. Sistem Resi Gudang beberapa tahun terakhir ini menjadi hal yang menarik bagi saya karena dapat memberikan manfaat untuk petani. Hanya saja memang tidak banyak penelitian SRG di Indonesia ini dilakukan, terutama pada SRG wilayah Aceh. Kopi Arabika Gayo, menjadi komoditi yang mudah-mudahan membawa saya untuk menyelesaikan tesis dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. And my research pathway begins from the coldest town in Aceh, Takengon.


Saya berupaya memanfaatkan waktu liburan semester dengan menggarap proposal penelitian perlahan-lahan. Salah satu yang saya lakukan adalah dengan mengunjungi kota Takengon dan melakukan silahturahmi dengan beberapa narasumber untuk menunjang penelitian nanti. Setelah mengumpulkan informasi dengan bantuan kenalan asli Takengon, saya pun mengunjungi Koperasi Ketiara. Sebagai Koperasi Perdagangan Kopi (Kopepi) yang  terpercaya di Tanah Gayo, koperasi ini telah menghasilkan kopi arabika organik yang telah disertifikasi oleh Control Union dan Fairtrade Internasional (FLO). Koperasi ini juga memberdayakan petani kopi dengan memberikan pelatihan untuk menigkatkan SDM petani kopi dalam sistem agribisnis.

Selain mengunjungi Koperasi Ketiara di Umang, saya juga mengunjungi Gudang Sistem Resi Gudang (SRG) Kopi Arabika Gayo di Paya Ilang. Sayangnya, pada waktu itu tidak aktivitas dapat saya amati karena gudang tersebut sedang dalam kondisi kosong. Pak Rahman, ketua pengawas SRG mengatakan bahwa kopi yang disimpan di gudang tersebut berasal dari petani yang tergabung pada kelompok tani. Bergabungnya petani dalam kelompok tani akan lebih mempermudah proses transaksi SRG baik dari mulai proses keanggotaan, hingga pencairan kredit yang diajukan menggunakan resi gudang. Resi gudang sendiri merupakan sebuah dokumen resmi yang berisi detail komoditi kopi yang disimpan sehingga dapat dijadikan angunan kredit bank.


Perjalanan pertama saya ke Kota Takengon ini semoga menjadi awal yang baik untuk menyelesaikan tesis. Usai liburan semester, saya harus lebih serius dan giat agar harapan untuk mendapatkan gelar secepatnya tercapai. Perjalanan dan pengalaman saya menggarap tesis setahun kedepan akan saya awali dengan tulisan ini. Tag #funfaithfighthesis akan menjadi tag khusus menuju gelar M.Si. Semangat!

Senin, 10 Juli 2017

Potensi Wisata Pasar Tradisional


Dikenal sebagai The Kitchen of The World, hingga kini Thailand masih bertahan menjadi negara eksportir beras terbesar di dunia terutama untuk kawasan Asia. Perhatian lebih yang diberikan sejak masa Raja Bhumibol Adulyadej pada sektor pertanian menjadikan potensi pertanian berpengaruh positif pada perekonomian, menyerap 38,2% tenaga kerja serta memberikan kontribusi GDP sebesar 12,2%. Sedangkan World Travel & Tourism Council (WTTC) menyatakan bahwa sebesar 10% GDP sektor pertanian berpengaruh positif pada perekonomian. Sektor travel and tourism Thailand pun menjadi sektor kedua paling banyak menyerap tenaga kerja. Hal ini dikarenakan banyak lokasi wisata Thailand yang berbasis pertanian. Tercatat bahwa pada tahun 2016 wisatawan yang datang ke Thailand hampir mencapai 32 juta orang dan mayoritas wisatawan yang berasal dari China, Malaysia, Rusia dan Jepang. Angka ini masih terlalu tinggi dibandingkan Indonesia yang tahun 2017 ini baru menargetkan jumlah wisatawan mencapai 15 juta orang.


Melihat kesuksesan Thailand mengembangkan wisata berbasis produk pertanian, Indonesia sebenarnya memiliki peluang yang sama. Hanya saja pengeloaannya masih kalah cerdas dibandingkan Thailand. Pemerintah selama ini hanya berfokus pada satu titik, bukan pada keseluruhan sistem disektor pertanian. Pemberian subsidi benih dan pupuk masih terus berjalan sementara dari sisi penjualan produk pertanian belum optimal. Pemerintah terkesan setengah hati menangani permasalah pertanian dan tidak mempertimbangkan subsistem agribisnis keseluruhan.

Ada Apa dengan Pasar Tradisional?
  
Berbicara tentang sistem agribisnis, maka juga berbicara tentang proses dari hulu ke hilir. Maka faktor pendorong naiknya permintaan masyarakat kini tak hanya berorientasi pada kualitas produk, tapi juga daya tarik faktor lain, misalnya jenis pasar. Oleh karena itu keberadaan pasar sebagai tempat proses pertukaran barang, jasa dan informasi menjadi hal penting dalam manajemen pemasaran.
Baik pasar tradisional maupun pasar modern memiliki daya tarik yang berbeda. Sayangnya, masyarakat lebih memilih berbelanja di pasar modern dibanding di pasar tradisional. Padahal keberadaan pasar tradisional tidak hanya menjadi tempat untuk menjaga stabilitas pangan tapi juga sekaligus tempat memamerkan komoditi unggulan pertanian daerah dengan nuansa budaya sosial yang khas.
Thailand misalnya, pasar tradisional menjadi lokasi wisata yang diincar para wisatawan. Hal ini terbukti dari banyaknya lokasi yang “disulap” menjadi lokasi wisata, bahkan pasar tradisional sekali pun. Pasar Or Tor Kor yang berlokasi di Bangkok, tak jauh dari pasar mingguan Chatuchak, terkenal sebagai pasar segar peringkat keempat di dunia versi CNN Travel setelah pasar La Boqueria di Barcelona, Pasar Tsukiji di Tokyo dan Pasar Union Square di New York. Pasar ini menjadi surga berbagai macam buah eksotis tropis di seantero Thailand bahkan diseluruh Asia.
Pasar Or Tor Kor adalah contoh wisata pasar tradisional di Asia Tenggara yang patut dicontoh, terutama dari segi manajemen pemasaran agribisnis yang dirancang sangat strategis melalui sebuah pasar tradisonal. Pasar ini memperhatikan kebersihan dan kerapian lokasi, kualitas produk jual yang berstandar tinggi serta kuantitas produk domestik dan impor yang tak diragukan lagi. Pasar ini menjalankan sistem agribisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir dan memadukan potensi wisata yang prospektif. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Potensi Wisata Pasar Tradisional
            Pemerintahan Presiden Jokowi dalam program nawacitanya di tahun 2017 ini berencana untuk membangun 1.003 pasar tradisional hampir disetiap di Indonesia. Pasar-pasar tradisional dibangun dan dibenahi dan ditargetkan pemerintah menjadi pasar pariwisata dan tradisional terpadu yang berdaya saing. Pemerintah memastikan tidak hanya berfokus pada  pembangunan fisik, tapi juga pembenahan dari sisi manajemen pedagang, seperti manajemen stok, keuangan, tata letak barang dll.
Namun kini muncul tantangan lain. Keberadaan pasar modern yang semakin menjamur  mengurangi minat masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional. Maka kini Menko Perekonomian mengeluarkan kebijakan pembatasan zonasi minimarket yang kini berjumlah 14 ribu unit agar tidak merajalela di permukiman masyarakat. Regulasi terbaru ini dilakukan untuk melindungi pasar tradisional yang tergerus zaman. Tak hanya itu, pemerintah juga seharusnya perlu memastikan hubungan yang jelas antara petani atau pedagang dengan pasar tradisional. Memutuskan rantai pemasaran yang terlalu panjang serta mendorong petani untuk memperkuat bargaining position melalui collective action berupa kelompok tani.
Pasar tradisional dikatakan berhasil jika pasar tidak hanya menjadi tempat berbelanja tapi juga menjadi tempat wisata. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah bersama-sama menjadikan pasar tradisional tak hanya untuk meningkatkan omset pedagang, tapi juga meningkatkan suasana ekonomi pasar yang kompetitif, berdaya saing, dan berpotensi wisata.


*Penulis adalah Mahasiswa Magister Sains Agribisnis IPB, Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP RI dan tergabung di Organisasi Mata Garuda Daerah Aceh (Saleum)
*Tulisan ini dimuat pada Rubrik Opini di Media Surat Kabar Republika Edisi 8 Juli 2017

Kamis, 01 Juni 2017

Dialog MSA IPB bersama DPR RI


Setelah 8 tahun, akhirnya saya kembali lagi untuk mengunjungi gedung DPR. Jika dulu ke DPR masih dalam status siswa dalam rangka sebuah event kompetisi nasional, tapi kali ini saya berstatus mahasiswa S2 dalam sebuah kegiatan dialog interaktif bersama wakil rakyat. Bagi saya, gedung DPR lebih dari tempat melihat langsung Putri Pariwisata Indonesia, berfoto atau bertegur sapa dengan para wakil rakyat kala itu. Tapi ada kisah berkesan yang tak akan hilang dibenak hingga sekarang. Rasa haru timbul ketika menyadari bahwa Allah selalu ada cara memberikan kejutan yang tak terduga. Yaitu, kembali pada sebuah tempat yang penuh akan kenangan setelah bertahun-tahun. Alhamdulillah.
Selasa lalu (30/5/2017), sebanyak 30 orang siswa dan 2 orang dosen dari Magister Sains Agribisnis (MSA) IPB melakukan kunjungan ke DPR RI, Senayan, Jakarta. Kunjungan ini bukan bagian dari perkuliahan, tapi sebuah peluang yang ditawarkan oleh dua orang dosen MSA IPB untuk lebih banyak memperoleh pemahaman terkait mata kuliah Sistem Usaha Agribisnis dan mata kuliah Negosiasi dan Advokasi di luar kelas.  Kedua mata kuliah ini adalah mata kuliah yang berhubungan pada dan proses advokasi terutama dibidang agribisnis. Sangat menarik bukan? Bisa mendapatkan tambahan pengetahuan dan wawasan langsung dari anggota DPR RI.


Kunjungan pertama yaitu dialog interaktif bersama Pak Darori Wonodipuro. Beliau pernah menjadi Dirjen Departemen Kehutanan RI selama 10 tahun dan kini seorang anggota DPR Komisi IV Fraksi Gerindra. Dialog yang berlangsung berupa pembahasan tentang kehutanan. Beliau banyak menjelaskan fungsi hutan, perundang-undangan, kondisi hutan Indonesia saat ini dan banyak hal lainnya. Pak Darori kerap menyelipkan guyonan saat berbicara sehingga dialog santai tapi tetap serius. Beliau menjelaskan bahwa perundang-undangan yang mengatur tentang kehutanan saat ini tidak sesuai harapan karena ada kepentingan-kepentingan pihak terselubung yang “bermain” saat implementasi. Maka karena itu kebijakan pemerintah yang mengatur tentang kehutanan tidak ada yang 100% sesuai rencana.


Pada siang harinya, kami juga berdialog dengan Wakil Ketua DPR, Fadli Zon. Dialog membahas tentang ketahanan pangan dan hubungannya dengan ilmu Agribisnis. Beliau mengungkapkan bahwa Agribisnis adalah bidang ilmu yang sangat dibutuhkan sekarang ini. Sistem agribisnis di Indonesia masih belum optimal dan kreatif jika dibandingkan dengan sistem agribisnis negara Thailand, Jepang dan beberapa negara lainnya. Beliau juga menambahkan bahwa infrastruktur yang digadang-gadang menjadi kendala dalam pertanian terkadang tidak tepat sasaran sehingga proyek padat modal seperti infrastruktur berimbas pada hal lain yang tak ada kaitannya dengan pembangunan pertanian. Negara Indonesia kini kini hanya masuk dalam tahap ketahanan pangan, tapi masih belum daulat pangan. Mewujudkan hal ini tentu membutuhkan banyak kerjasama yang berkesinambungan antar berbagai stakeholder. Inilah yang menjadi tujuan kunjungan kami ke DPR agar para mahasiswa magister utamanya, mendapatkan penjelasan akan peluang dan tantangan agribisnis langsung dari wakil rakyat. Mahasiwa MSA IPB juga diharapkan bisa menuliskan opininya di surat kabar terkait wawasan yang didapatkan selama kunjungan.


Sebenarnya kami juga berencana untuk mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait teknik negosiasi dan advokasi pertanian pada hari itu. Tapi sayang, sesi berdialog dengan Fadli Zon dimulai terlalu lama dan sesi RDPU keburu selesai, rencana ini pun batal. Padahal, akan lebih menarik lagi jika bisa melihat proses RDPU berjalan. Tak apa, setidaknya kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk saya. Kapan lagi bisa berdialog langsung dengan wakil rakyat di Gedung DPR? Semoga akan ada lagi kesempatan dilain waktu. Amin [KF2/5/2017]



Senin, 03 April 2017

Membuka Tabir Sebuah Dunia Pelarian

Rasanya aneh dizaman sekarang ini masih ada yang belum familiar dengan istilah entrepreunership. Ada banyak keywords yang terlintas saat mendengar kata ini. Mandiri, modal, usaha, keputusan, bisnis, peluang, kaya, profit, bangkrut, dan… pelarian. Iya, sebuah pelarian. Sebuah dunia abu-abu yang hingga sekarang menjadi momok dan rasa ngeri untuk sebagian orang. Mulai dari rasa tidak mampu, tidak mempunyai modal dan bahkan ketakutan akan gagal (bangkrut).
Mungkin karena saya tidak mendapatkan Mata Kuliah Kewirausahaan saat berkuliah S1 dan karena saya bukan berasal dari keluarga pebisnis, pandangan tentang dunia kewirausahaan juga masih asing dipikiran saya. Kedua orang tua yang notabene seorang pendidik di sekolah menengah menjadikan saya justru terbiasa dengan profesi pengajar. Bukan berwiraswasta. Namun paradigma tentang esensi dari sebuah makna kewirausahaan menjadi semakin jelas sejak mengeyam pendidikan di Master Sains Agribisnis IPB. Saya mengenal banyak istilah dalam pendekatan teoritis entrepreneurship.
Kampus yang terkenal dengan karakter kewirausahaannya ini, IPB mendorong minat mahasiswa dengan adanya Mata Kuliah Kewirausahaan. Sejak mengikuti perkuliahan inilah, saya menyadari ternyata jika makna dari kewirausahaan dipisah-pisahkan menjadi lebih detil, esensi “kewirausahaan” menjadi hal yang semakin menimbulkan rasa penasaran. Mulai dari bagaimana hubungan kewirausahaan terhadap labor market, labor supply dan demand, human capital, hingga bagaimana hubungannya dengan unemployment rate dll. Berwiraswasta bukan semata-mata menjual sesuatu dan mengharapkan keuntungan. Banyak hal-hal lain yang patut dipertimbangkan.

Selasa, 28 Maret 2017

The Art of Cooking


Sudah beberapa bulan ini, sejak merantau di Bogor, saya mulai iseng-iseng mencoba memasak. Pada awalnya masih segan sama diri sendiri. Mikirnya apapun masakannya pasti gak jadi dan pasti rasanya jadi gak enak. Tapi akhirnya ada satu alasan yang membuat saya tergerak untuk mulai belanja dan mengolah makanan sendiri. Yaitu karena diremehkan oleh beberapa teman. Ternyata diremehkan itu memberikan dua efek. Pertama minder, karena harus menerima kekurangan diri. Kedua menjadi lebih terbakar semangat. Diremehkan memang membuat diri pada awalnya minder, tapi dengan niat perubahan, maka remehan itu bisa jadi bahan bakar semangat yang paling mujarab.
Diremehkan membuat saya jadi “geram” untuk berubah. Beh, jangan dipikir ini hal yang biasa. Justru ini hal yang luar biasa bagi saya karena sudah mau berubah dan beraksi. Ya meskipunnya mungkin masakan saya tidak seenak dibanding masakan mereka yang sudah ahli dan yang sudah banyak dapat predikat pujian. Masakan yang saya buat masih bukan apa-apanya. Bayangkan saja, saat masih kuliah sarjana di Banda Aceh, mungkin memasak di kosan bisa dihitung pakai jari. Jika pun saya memasak, paling masaknya cuma mie instan, telur dadar, tempe goreng dan nasi goreng. Haha. Jadi jelas kalau banyak yang bilang saya ini tidak pandai memasak, that’s real.  
Hanya satu alasan saya dulu yang membuat saya jarang memasak, yaitu LAMA. Bagi saya memasak itu membuang waktu karena prosesnya cukup lama. Pulang kuliah saya jadi malas ngapa-ngapain. Keinginan memasak ada, tapi terkadang perut sudah keburu lapar duluan sebelum mulai memasak. Because I thought it wasted time, maka saya lebih memilih makanan diluar. Alasan inilah yang membuat saya tidak meneruskan bakat memasak yang “gak jadi” ini sejak masa-masa kuliah S1 dulu. Heuheu

Senin, 27 Februari 2017

1000 Kata yang Tak Sekedar “Kata”

Kau tahu mengapa aku menyayangimu lebih dari apapun? Karena kau menulis. Suaramu tak akan pernah padam ditelan angin. Akan abadi. Sampai jauh, jauh dikemudian hari” (Pramoedya Ananta Toer).
            Banyak orang begitu lancar dan mengalir mengemukakan ide ketika berbicara. Namun susah menyampaikannya dalam sebuah tulisan. Begitu juga sebaliknya. Menulis adalah sebuah skill yang tak semua orang menguasainya. Susah, tapi bisa dipelajari. Menulis seperti sebuah seni yang membutuhkan keterampilan yang tak bisa mengandalkan satu panca indera. Bagi saya, menulis laksana kekayaan kreativitas yang elegan. Lebih dari sekedar menyusun rangkaian kata, menantang dan begitu seru.
            Beberapa hari lalu, Sabtu (25 Februari 2017), saya dan beberapa teman dari awardee LPDP IPB mengikuti kegiatan sharing tentang strategi dan trik menulis menembus media oleh Mata Garuda Institute di Gedung LPDP Kementerian Keuangan RI, Jakarta. Mata Garuda adalah Keluarga Besar para penerima beasiswa LPDP baik yang masih berstatus awardee maupun yang sudah berstatus alumni. Meski harus membatalkan agenda lain, saya menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan “mahal” ini.
            Bhima Yudistira, alumni LPDP yang kini bekerja sebagai Ekonomi di INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) berbagi wawasan dan pengalaman tentang tips dan trik menulis pada semua peserta yang hadir. Bhima menjelaskan bahwa hal terpenting ketika menulis di suatu media (baik media cetak atau media online) adalah mengetahui dengan jelas arah penulisan. Apakah tulisan yang dibuat menunjukkan sebuah positioning (keberpihakan) ataukah mengandung sebuah gagasan baru.


             Terdapat 7 tips utama agar tulisan menembus media. Pertama, tanggap isu.  Seseorang yang ingin menulis opini di media disarankan untuk tanggap isu yang sedang hot di media cetak atau media online. Caranya yaitu dengan rutin membaca editorial surat kabar maupun headline berita online. Kedua, Tema yang ditulis baiknya sesuai dengan bidang keahlian. Biasanya redaktur dari media kredibel akan memperhatikan CV dari penulis. Oleh karena itu, sangat penting untuk memperbaharui profil diri dan menyesuaikan dengan tema tulisan yang dikirimkan. Tulisan yang sesuai dengan bidang keahlian berpeluang besar untuk diterima oleh redaktur. Ketiga, menggunakan bahasa yang to the point. Generasi yang serba instan akan mempengaruhi minat pembaca dalam memilih tulisan yang sensasional, singat tapi lugas. Keempat, perbanyak data. Data kredibel menjadi hal yang sebaiknya tetap diperhatikan dalam menulis. Fakta dari data yang ada akan memperkuat agrumen tapi data yang disajikan tersebut jangan overload. Kalau overload, bukan opini dong namanya. Tapi jurnal ilmiah. Hehe. Kelima, aware terhadap pembaca. Seorang penulis yang ingin tulisannya dibaca oleh banyak orang, maka penulis tersebut harus lebih peka terhadap karakteristik pembaca. Biasanya masing-masing media punya karakteristik pembaca yang berbeda pula. Keenam, proofread. Ini juga menjadi tahap yang tak kalah pentingnya agar tulisan dapat menembus media. Proofread baiknya dilakukan oleh senior, yang lebih mengerti tentang konten dan berpengalaman dalam tulis-menulis. Ketujuh, follow up. Jika hampir seminggu jika tulisan yang sudah dikirimkan tidak juga dipublish, maka perlu ditanyakan dengan sopan kepada redaktur. Ini berguna agar tulisan yang dikirimkan mendapatkan kepastian diterima atau tidak di media tersebut. And the last but not the least, adalah gaya bahasa yang sopan dan jelas ketika mengirimkan tulisan disurel. Pada badan surat, ada baiknya mencantumkan CV, foto, KTP dan nomor rekening. Data pribadi ini diperlukan agar redaktur dapat dengan mudah menelisik latar belakang penulis. Tentu media yang sudah terkenal tidak akan asal-asal menerbitkan sebuah tulisan.
Menulis akan menjadi aktivitas yang berat jika jarang membaca. Bima Yudistira menyarankan untuk lebih sering membaca buku dan mengurangi sumber-sumber informasi yang bersifat instan. Mengapa? Karena informasi yang disajikan lewat media online biasanya terputus-putus sedangkan menulis untuk menembus media perlu pemahaman yang mendalam untuk membentuk sebuah ide baru.



Menjadi awardee LPDP mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi terbaiknya untuk Indonesia. Oleh karena itu menulis dan memberikan gagasan baru untuk perubahan daerahnya atau Indonesia secara umum adalah hal yang sangat dianjurkan. Bhima, yang juga lulusan gelar magister Finance di Bradford University saat memberikan materi saat itu juga menambahkan, “Ketika menulis, harus ada yang menarik, yang berbeda. Jangan mau tulisannya biasa-biasa saja”. Benar sekali.  Tulisan yang menarik dan unik akan berpeluang lebih besar untuk diterbitkan. Dan menulis yang menarik itu sebenarnya susah-susah gampang. Bagaimana, Berani mencoba? [KF/270217]

Sabtu, 18 Februari 2017

Primadona Nasional yang Terlupakan

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Tak ayal Lirik lagu Koes Plus tetap populer membingkai Indonesia sebagai “tanah surga”. Namun kini agaknya julukan itu terkikis seiring waktu. Kekayaan sumber daya alam suatu negara belum menjamin kesejahteraan rakyatnya.
Melihat pergerakan bisnis, komoditas perkebunan seperti sawit, kopi dan karet memberikan angin segar pertumbuhan ekonomi hingga di tingkat perdagangan internasional. Tapi sayangnya, jika Indonesia hanya bertompang pada CPO di segi kuantitas, maka Indonesia akan tertinggal dari negara jiran yang berfokus di segi kualitas. Begitu juga halnya dengan kopi yang masih menimbulkan dilema bagi para petani kopi lokal. Pendapatan petani kopi masih belum bisa dikatakan seutuhnya sejahtera. Belum lagi pergolakan harga yang fluktuatif dan tingkat produksi yang tak menentu. Akan kah Indonesia akan terus mengandalkan komoditas perkebunan tersebut? Lalu apa komoditas potensial “tanah surga” lainnya?

Nasib Buah Tropis Indonesia
Dilalui oleh garis ekuator menjadikan Indonesia berada di daerah yang memiliki intensitas cahaya yang stabil disepanjang tahun dan bercurah hujan ideal. Biodeversiti bunga, sayur, obat-obatan, termasuk buah-buahan tropis tumbuh subur. Namun tak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya buah tropis Indonesia adalah aset nasional yang berdaya saing tinggi. Keanekaragaman buah tropis Indonesia sepantasnya menjadi primadona nusantara yang terlupakan eksistensinya.
Dari segi peluang, produksi buah-buahan lokal justru tak kalah berjaya di pasar global. Di tambah lagi volume eskpor buah Indonesia menurut data BPS 2015 terus mengalami peningkatan setiap tahun. Pisang misalnya, mencapai 7008 ton produksi. Kemudian disusul Mangga sebanyak 2464 ton dan Jeruk sebanyak 1999 ton. Pada kenyataannya melimpah-ruahnya produksi buah tropis ternyata tak sebanding dengan keadaan perekonomian dalam negeri. Indonesia justru dibanjiri oleh buah-buahan impor. 


Fakta lain menunjukkan bahwa masih banyak buah-buah di pasar tradisional yang berkualitas kurang baik. Ini tentu menurunkan minat pembeli. Pemupukan yang tidak tepat, packaging yang tidak sesuai standar serta mutu yang rendah menjadi kendala di pasar domestik. Konsumen yang cerdas tentu akan lebih memilih buah segar dan harganya juga terjangkau. Produk impor yang murah dan dikemas menarik menjadi pilihan yang menggiurkan. Ini salah satu faktor mengapa komoditas hortikultura masih jalan ditempat dan belum bisa aman melejit ke pasar global. Dibandingkan dengan dengan importir buah terbesar seperti Cina, Indonesia masih kalah dalam hal efisiensi produksi.
Pada 17-20 November lalu di Senayan, Jakarta, Kementerian Pertanian bersama IPB menggelar pameran buah Indonesia. Pesta buah bertaraf internasional ini memunculkan beragam buah eksotis Indonesia yang langka ditemukan. Kegiatan ini  memperkenalkan buah nusantara di pasar global, meningkatkan ekspor dan mengurangi ketergantungan buah impor. Selain itu juga diharapkan mampu memancing masyarakat lokal untuk menyadari kekayaan SDA dalam negeri. Pemerintah berperan penting untuk meningkatkan kesadaran dan membuka mindset masyarakat terkait peluang agribisnis dari komoditas holtikultura. Selebihnya tentu perlu sinergi beberapa pihak lain untuk mencapai peluang agribisnis yang oke punya.

Mendukung Agribisnis Buah Tropis
Menurut data FAO, Indonesia berada diperingkat 20 besar eksportir buah di dunia. Ini membuktikan bahwa Agribisnis komoditas hortikultura tak kalah menggoda. Terdapat 12 macam buah tropis asli Indonesia yang sudah diakui dunia yaitu Jeruk Bali Keprok, Durian, Mangga, Manggis, Alpukat, Nanas, Rambutan, Salak, Pisang, Pepaya, Melon dan Semangka. Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman varietas buah tropis yang tak ditemukan di negara lain.
Komoditas pertanian perlu dikembangkan  melalui  agribisnis yang terintegrasi. Kita perlu memperbaiki keseluruhan proses mulai dari tahapan di hulu hingga hingga hilir. Optimisme pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pengeskpor buah utama dan terbesar di dunia akan mendekati titik cerah jika dijalankan dengan baik. Potensi agribisnis buah tropis diyakini tak hanya meningkatkan perekonomian lewat perdagangan internasional, tapi juga diharapkan mampu menumbuhkan potensi agrowisata. Sejak dulu buah-buahan sudah menjadi bagian dari kultur Indonesia karena hampir semua acara budaya menggunakan buah, baik untuk suguhan maupun bagian dari ritual peribadatan. Indonesia seharusnya menjadi peluang besar dalam agribisnis buah tropis global.
Mewujudkan hal tersebut tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu sinergi dari banyak pihak untuk mewujudkannya. Pemerintah diharapkan memberikan dukungan penuh pada perkembangan pasar buah domestik. Pemberian subsidi bagi para petani, penyediaan bibit unggul dan gencar melakukan promosi pada komoditas unggulan. Masyarakat umum pun perlu memahami potensi daerahnya sendiri. Para akademisi juga dapat memberikan kontribusinya lewat keterampilannya dalam hal genetika untuk menciptakan bibit-bibit unggul. Sudah saatnya kita membuktikan penggalan lirik Koes Plus tak hanya sekedar lirik dan menobatkan buah tropis sebagi komoditas primadona baru Indonesia. Semoga. 



-------------
*Tulisan ini di publish di Majalah Warta Unsyiah Edisi 502 Januari 2017